Protes Lapangan Tiananmen 1989 (atau Insiden 6/4 atau Pembantaian Lapangan Tiananmen) rahmat adalah sebuah rangkaian demonstrasi yang dipimpin mahasiswa diadakan di Lapangan Tiananmen di Beijing, Republik Rakyat Cina, antara 15 April dan 4 Juni 1989. Protes ini ditujukan terhadap ketidakstabilan ekonomi dan korupsi politik yang kemudian merembet menjadi demonstrasi pro-demokrasi yang memang merupakan suatu yang belum lazim di Cina yang otoriter. Lebih dari 3.000 orang meninggal sebagai akibat tindakan dari pasukan bersenjata.
Mahasiswa memulai protes pada pertengahan April 1989, dipicu oleh kematian Hu Yaobang, sekretaris jenderal partai yang mengundurkan diri. Hu dipandang sebagai seorang yang berpikiran liberal dan dipaksa mengundurkan diri dari posisinya oleh Deng Xiaoping. Banyak orang, terutama kaum intelektual, menganggap ini sebagai sebuah perlakuan yang tidak adil.
Protes bermula dalam skala kecil, dalam bentuk peringatan terhadap Hu Yaobang dan meminta partai membaharui pandangan resmi mereka terhadap Hu. Protes ini berkembang setelah berita tentang konfrontasi antara mahasiswa dan polisi menyebar.
Pada pemakaman Hu, sekelompok besar mahasiswa berkumpul di lapangan Tiananmen dan meminta permohonan di atas, namun gagal, untuk bertemu Perdana Menteri Li Peng, yang dipandang luas sebagai saingan politik Hu. Oleh karena itu para pelajar mengadakan sebuah mogok di universitas di Beijing. Pada 26 April, seorang editor Harian Rakyat menuduh mahasiswa merencanakan kekacauan. Pernyataan ini membuat kemarahan para mahasiswa, dan pada 27 April sekitar 50.000 mahasiswa pergi ke jalan-jalan Beijing, tidak menghiraukan perintah bubar yang diumumkan oleh penguasa dan tetap menuntut pemerintah mencabut pernyataan.
Pada 4 Mei, sekitar 100.000 pelajar dan pekerja berparade di Beijing meminta pemerintah untuk reformasi media bebas dan sebuah dialog formal antara penguasa dan wakil pilihan mahasiswa. Pemerintah menolak dialog tersebut, hanya setuju untuk berbicara dengan anggota dari organisasi pelajar yang ditunjuk. Pada 13 Mei, banyak kelompok mahasiswa menempati lapangan Tiananmen dan memulai protes lapar, meminta pemerintah menarik tuduhan yang ditulis di Harian Rakyat dan memulai pembicaraan dengan wakil mahasiswa. Ratusan mahasiswa turut serta dalam protes lapar dan didukung oleh ratusan ribu mahasiswa yang memprotes dan juga penduduk Beijing yang berakhir selama seminggu.
Meskipun pemerintah mengumumkan Undang-undang Darurat pada 20 Mei, demonstrasi terus berlanjut. Setelah para pemimpin Komunis berunding keluarlah perintah untuk menggunakan kekuatan militer untuk memecahkan krisis itu, dan Zhao Ziyang ditendang dari kedudukannya sebagai pemimpin politik karena dianggap gagal dalam mencegah aksi militer. Lalu Partai Komunis memutuskan untuk menghentikan situasi itu sebelum berkembang lebih jauh. Tentara dan tank-tank dari Brigade 27 dan 28 dari Tentara Pembebasan Rakyat (人民解放軍) dikirim untuk mengendalikan kota. Pasukan-pasukan ini diserang oleh para buruh dan mahasiswa Cina di jalan-jalan kota Beijing dan kekerasan yang muncul sesudah itu mengakibatkan kematian di antara penduduk sipil dan militer. Pemerintah Cina mengakui bahwa beberapa ratus orang mati dalam insiden ini.
Angka-angka perkiraan korban sipil berbeda-beda: 400-800 (CIA), dan 2.600 (Palang Merah Cina). Para mahasiswa pengunjuk rasa mengklaim bahwa lebih dari 7.000 orang yang terbunuh. Setelah kekerasan ini, pemerintah melakukan penangkapan di mana-mana untuk menekan sisa-sisa pendukung gerakan itu. Pemerintah membatasi akses pers asing dan mengendalikan liputan atas kejadian-kejadian di pers daratan Cina. Penindasan terhadap protes Lapangan Tiananmen mengundang kecaman yang luas oleh Amerika Serikat dan pemerintah negara-negara Barat lainnya terhadap pemerintahan RRT.
Demonstrasi Liar (Muzhaharah) jelas-jelas diharamkan oleh Islam. Ini kerana, di dalam melakukan demonstrasi, ia disertai dengan beberapa aktiviti yang diharamkan seperti mengganggu lalu-lintas, menghancurkan, merosak atau membakar harta benda, mengganggu ketenteraman awam dan sejenisnya. Tidak kurang pula, Muzhaharah ini mengakibatkan rusuhan, pergaduhan, perkelahian, penganiayaan, bahkan pembunuhan. Pengharamannya didasarkan pada fakta bahawa di dalam demonstrasi ini terdapat sejumlah tindakan yang diharamkan oleh Islam.
Sementara itu, Demonstrasi Aman (Masiirah) adalah satu bentuk demonstrasi yang dibolehkan/diharuskan (mubah). Ini berdasarkan kenyataan bahawa ia dilakukan dengan tertib dan aman, dengan memperhatikan dan mematuhi hukum-hukum syara’, termasuk berkaitan dengan pendapat atau aspirasi yang disampaikan; ia dilakukan tanpa kekerasan, tidak mengganggu lalu-lintas dan hak-hak umum, tidak membakar, merosak dan menghancurkan barang-barang milik umum, negara atau individu. Oleh yang demikian, Masiirah ini jelas-jelas diperbolehkan oleh Islam.
Perlu difahami bahawa Islam memandang Masiirah sebagai salah satu cara (uslub) di antara berbagai cara pengungkapan aspirasi atau pendapat dan bukan sebagai method (thariqah) di dalam melakukan proses perubahan masyarakat. [Method/Thariqah adalah suatu yang wajib diambil oleh umat Islam di dalam mencontohi Rasulullah. Contohnya, thariqah Rasulullah berdakwah secara aman dan tidak menggunakan kekerasan di dalam menegakkan Daulah Islam. Sedangkan uslub adalah suatu yang boleh berubah-ubah dan pelbagai sifatnya asalkan tidak bertentangan dengan hukum syara’]. Apabila keadaan memerlukan, Masiirah boleh dan patut dilakukan dan sebaliknya jika tidak, patut ditinggalkan. Hal ini sesuai dengan hukum kemubahannya.
Jika kita teliti sirah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam, baginda tidak pernah menjadikan dan menggunakan demonstrasi aman sebagai thariqah mengubah masyarakat Jahiliyyah di kota Makkah menjadi masyarakat Islam. Namun begitu, baginda pernah melakukan demonstrasi aman di kota Makkah. Peristiwa ini terjadi setelah Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya berdakwah secara terang-terangan. Baginda lalu memerintahkan kaum Muslimin keluar dan berjalan membentuk dua barisan menuju Ka’bah. Satu barisan dipimpin oleh Umar ibn al-Khaththab dan yang satu lagi dipimpin oleh Hamzah ibnu Abdul Muthalib. Dengan diiringi laungan takbir dan kalimah suci La ilaha illallah, kaum Muslimin berjalan mengelilingi Ka’bah. Rasulullah sendiri berada di dalam kelompok tersebut memberi arahan. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengambil satu cara yang tidak pernah dilakukan oleh masyarakat Jahiliyyah pada ketika itu di dalam rangka menjalankan perintah Allah yakni menzahirkan Islam dengan berdakwah secara terang-terangan. Masiirah ini juga dilakukan oleh baginda untuk menzahirkan kutlah (kelompok) kaum Muslimin yang selama ini telah ditasqif (dibina) oleh baginda secara sembunyi-sembunyi khasnya di rumah Al-Arqam ibnu Al-Arqam.
Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam juga pernah menghimpunkan kaum Quraish di Bukit Safa untuk menyeru kepada mereka supaya beriman kepada Allah dan menjelaskan bahawa baginda adalah Rasul yang diutus Allah kepada manusia. Peristiwa ini sangat terkenal di dalam sirah kerana ia telah menjadi asbab kepada turunnya Surah Al-Lahab di mana Allah telah melaknat Abu Lahab. Perbuatan Rasulullah di dalam menghimpunkan kaum Quraish tadi sememangnya telah dikeji dan diperbodohkan oleh Abu Lahab, dengan berkata ”Celakalah engkau wahai Muhammad, adakah semata-mata kerana ini engkau telah menghimpunkan kami?”. Inilah kata-kata yang telah menyebabkan Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat Abu Lahab. Wahai kaum Muslimin! adakah kita sanggup untuk mengatakan bahawa semua tindakan Rasulullah dalam berdemonstrasi secara aman itu sebagai suatu tindakan bodoh, sebagaimana Abu Lahab? Na’uzubillahi min zalik.
Demikianlah perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan oleh Rasulullah yang menjadi petunjuk yang jelas kepada kita bahawa Masiirah dibenarkan oleh Islam. Peristiwa ini merupakan dalil kepada kita bahawa kaum Muslimin dibolehkan menghimpun umat manusia (samada dalam bentuk forum, seminar, Masiirah dan sebagainya) dalam rangka untuk menegakkan Deen Allah.
Demonstrasi Islam –vs- Kapitalis & Sosialis
Islam meletakkan demonstrasi aman sebagai uslub untuk menjelaskan aspirasi dan pendapat. Kedudukan ini amat berbeza sekali dengan pandangan masyarakat Kapitalis atau Sosialis (termasuk di dalamnya Komunis) yang menganggap demonstrasi (samada aman atau liar) sebagai salah satu thariqah dalam melakukan perubahan masyarakat. Bagi masyarakat kufur ini, demonstrasi adalah sebagai proses perubahan masyarakat ke arah yang mereka inginkan. Oleh karena itu, mereka tidak ada peraturan di dalam melakukan demonstrasi. Banyak sekali kejadian di mana mereka sering menimbulkan ketidaktenteraman, merosak, menghancurkan, membakar harta benda dan lain-lain bentuk kemusnahan demi mencapai matlamat dan objektif mereka. Bukti-bukti kepada perkara ini amat jelas dan banyak sekali di mana kita dapat lihat hampir setiap hari di kaca TV mahupun di dada-dada akhbar tentang demonstrasi liar yang dilakukan oleh kaum kafir ini di dalam menuntut apa yang mereka inginkan.
Berlandaskan kepimpinan berfikir (qiyadah fikriyyah) seperti inilah, masyarakat kufur samada Kapitalis atau Sosialis membangun cara hidup mereka. Berasaskan idea ’kebebasan’, mereka merasa berhak melakukan apa sahaja untuk menunjukkan rasa tidak puas hati. Dengan kata lain, kaedah yang mereka gunakan semasa berdemonstrasi ialah ’matlamat menghalalkan segala cara’. Islam tidak mengenal konsep kebebasan sebagaimana yang dijaja oleh kafir Barat. Umat Islam bukanlah satu umat yang ’bebas’. Umat Islam adalah umat yang ’terikat’ dengan segala perintah dan larangan Allah. Kaum Muslimin adalah terikat dengan segala hukum-hakam, halal dan haram, baik dan buruk hanyalah semata-mata mengikut apa yang Allah telah tetapkan.
Sebagaimana yang telah dijelaskan, demonstrasi liar seperti yang dilakukan oleh golongan Kapitalis atau Sosialis adalah diharamkan di dalam Islam. Islam mengharamkan menumpah darah sesama manusia kecuali dengan hak. Harta benda yang dimiliki oleh seseorang haram diambil atau dirampas oleh orang lain kecuali dengan hak. Kehormatan setiap orang haram dicabuli atau dirampas oleh orang lain. Syariat Islam menjaga ketiga-tiga perkara tersebut dengan sempurna. Mana-mana individu atau pemerintah yang melakukan pencerobohan terhadap tiga perkara ini akan dikenakan hukuman sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Islam tidak mengenal prinsip dan kaedah ’matlamat menghalalkan cara’ (al-ghaayah tubarriru al¬-wasilah), sebagaimana yang dianuti oleh masyarakat Kapitalis atau Sosialis. Tindak-tanduk seorang Muslim samada sebagai individu atau sebahagian dari anggota masyarakat ataupun sebagai penguasa wajib terikat dengan syariat Islam. Di dalam mengungkap aspirasi atau pendapat dengan cara berdemonstrasi mahupun dalam melakukan proses perubahan masyarakat, kaum Muslimin terikat dengan apa yang Rasulullah telah tunjukkan. Demonstrasi mestilah dilakukan dengan cara yang aman.
Khatimah
Wahai kaum Muslimin yang dimuliakan oleh Allah! Merubah kemungkaran itu adalah hak dan tanggungjawab kalian, baik kemungkaran itu dilakukan oleh individu atau pemerintah. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ”Barangsiapa yang menyaksikan kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, hendaklah dengan lidahnya (perkataan), jika tidak mampu dengan qalbunya. Itu (dengan qalbu) adalah selemah-lemah iman” [HR Muslim].
Mana-mana Masiirah yang dilakukan oleh kaum Muslimin di dalam mengubah kemungkaran adalah hal yang dituntut dan sememangnya sesuatu yang mulia. Tidak lama dahulu kaum Muslimin di seluruh dunia termasuklah di Malaysia melakukan Masiirah sebagai bantahan ke atas karikatur yang menghina Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam. Parti Islam SeMalaysia (PAS) beserta beberapa pertubuhan Islam lainnya dan umat Islam yang prihatin telah sama-sama bermasiirah membantah penghinaan yang telah dilakukan itu. Hizbut Tahrir Malaysia juga turut melakukan seruan di Masjid Negara mengutuk sekeras-kerasnya penghinaan yang telah dilakukan ke atas Rasulullah dan mengajak umat Islam agar bersama-sama mendirikan semula Daulah Khilafah yang hanya dengannya akan ’mengajar’ dan menghukum kebiadaban kaum kuffar tersebut. Oleh itu, tindakan-tindakan seumpama ini dan juga bantahan ke atas forum `Perlembagaan Persekutuan: Perlindungan Untuk Semua' di depan Hotel Cititel, Pulau Pinang, patut dipuji, bukannya dikeji. Adakah kita akan sanggup untuk menyatakan bahawa kaum Muslimin yang bermasiirah demi membela Rasulullah, demi membela Deen Allah dari diperlecehkan oleh kaum kuffar sebagai suatu tindakan yang salah dan bodoh?
Betapa mulianya aktiviti amar ma’ruf nahi mungkar ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam di dalam sabda baginda. Bahkan pahala aktiviti seumpama ini boleh sebanding dengan pahala penghulu syuhada, iaitu Hamzah bin Abdul Muthallib,
“Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan orang yang berhadapan dengan pemerintah yang zalim, lalu dia mengingatkan penguasa tersebut (kepada kemakrufan) dan melarangnya (dari kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya.” [HR Al-Hakim].
Wahai Kaum Muslimin! Menasihati dan memuhasabah pemimpin, institusi, organisasi, kelompok atau komuniti tertentu serta mengkritik dasar dan keputusannya yang zalim, termasuk membongkar kemungkaran atau konspirasi jahat terhadap Islam dan kaum Muslimin hukumnya adalah wajib meskipun caranya boleh beragam; boleh dilakukan secara langsung bertemu face to face; atau melalui tulisan, surat, seminar, demonstrasi aman dan lain-lain. Melakukan perkara-perkara tersebut dengan cara yang dibenarkan oleh syara’ samada secara langsung maupun tidak, adalah jelas lebih mulia berbanding dengan tidak melakukan apa-apa, apatah lagi dari mengeji dan menghina orang lain yang melakukannya.
Wahai pemimpin kaum Muslimin! Kalian adalah wakil rakyat yang telah dipilih untuk memimpin umat ini, bukan menyesatkannya. Kalian adalah orang yang diperintah oleh Rasulullah untuk menjadi pelindung kaum Muslimin bukan membinasakannya. Kalian adalah orang yang diamanahkan oleh Allah untuk menjaga agamaNya, bukan menghancurkannya. Umat Islam mengharapkan kalian agar melakukan perubahan, menjadi pemelihara rakyat dan pembela Islam. Umat Islam benar-benar mengharapkan kalian mengembalikan semula kehidupan Islam, mengembalikan sistem Islam, menerapkan apa yang telah diperintahkan oleh Allah, menegakkan semula Daulah Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Jika kalian tidak melakukannya, kaum Muslimin yang benar-benar ikhlas berjuang di jalan Allah akan tetap melakukannya. Sesungguhnya balasan Allah akan pasti tiba bagi mereka-mereka yang ingkar akan perintahNya. Itulah janji Allah dan janji Allah adalah suatu kebenaran yang pasti! Wallahua’lam
Demonstrasi sebagaimana yang disebutkan dalam Kamus Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) mengandungi dua makna. Pertama: penerangan, peragaan, penunjukan tentang cara kerja sesuatu mesin, keluaran dan lain-lain; Kedua: tunjuk perasaan dengan cara berkumpul beramai-ramai, berarak dan lain-lain. Inilah definisi yang menjadi topik perbincangan kita.
Daripada definisi itu sendiri, kita dapat fahami bahawa demonstrasi tidak membawa apa-apa konotasi yang negatif, apalagi yang menjurus kepada kesalahan. Demonstrasi pada hakikatnya merupakan salah satu cara untuk menampakkan aspirasi ataupun pendapat (ta'bir ar-ra'yi) masyarakat secara berkumpulan. Namun demikian, apa yang lebih penting bagi kita sebagai umat Islam adalah untuk memandang pengertian demonstrasi dari perspektif Islam. Secara umum, aktiviti menampakkan aspirasi atau pendapat di dalam Islam adalah perkara yang dibolehkan (mubah). Hukumnya sama seperti kita mengungkapkan pandangan atau pendapat tentang suatu perkara, cuma dalam hal ini ia dilakukan oleh sekumpulan orang.
Di dalam pengistilahan bahasa Arab, demonstrasi boleh dibahagikan kepada dua:
1) Demonstrasi Liar (Muzhaharah) : iaitu perbuatan sekumpulan masyarakat di tempat-tempat umum untuk menuntut dan membantah perkara-perkara tertentu yang sudah menjadi tugas negara atau orang yang bertanggungjawab. Di dalam Muzhaharah ini, para penunjuk perasaan biasanya akan melakukan kerosakan, rusuhan, kemusnahan, membakar harta milik negara, harta umum ataupun harta individu.
2) Demonstrasi Aman (Masiirah) : iaitu perbuatan sekumpulan masyarakat untuk menyokong, menuntut dan juga membantah sesuatu. Tindakan (Masiirah) ini tidak akan disertai aktiviti merosakkan, menghancurkan atau membakar harta benda negara, awam atau individu. Para penunjuk perasaan akan sentiasa memerhatikan dan mematuhi hukum-hukum syara’, nilai-nilai Islam dan kemaslahatan umat Islam. Mereka juga akan sentiasa menjaga adab-adab sebagai orang Islam.
Daripada definisi itu sendiri, kita dapat fahami bahawa demonstrasi tidak membawa apa-apa konotasi yang negatif, apalagi yang menjurus kepada kesalahan. Demonstrasi pada hakikatnya merupakan salah satu cara untuk menampakkan aspirasi ataupun pendapat (ta'bir ar-ra'yi) masyarakat secara berkumpulan. Namun demikian, apa yang lebih penting bagi kita sebagai umat Islam adalah untuk memandang pengertian demonstrasi dari perspektif Islam. Secara umum, aktiviti menampakkan aspirasi atau pendapat di dalam Islam adalah perkara yang dibolehkan (mubah). Hukumnya sama seperti kita mengungkapkan pandangan atau pendapat tentang suatu perkara, cuma dalam hal ini ia dilakukan oleh sekumpulan orang.
Di dalam pengistilahan bahasa Arab, demonstrasi boleh dibahagikan kepada dua:
1) Demonstrasi Liar (Muzhaharah) : iaitu perbuatan sekumpulan masyarakat di tempat-tempat umum untuk menuntut dan membantah perkara-perkara tertentu yang sudah menjadi tugas negara atau orang yang bertanggungjawab. Di dalam Muzhaharah ini, para penunjuk perasaan biasanya akan melakukan kerosakan, rusuhan, kemusnahan, membakar harta milik negara, harta umum ataupun harta individu.
2) Demonstrasi Aman (Masiirah) : iaitu perbuatan sekumpulan masyarakat untuk menyokong, menuntut dan juga membantah sesuatu. Tindakan (Masiirah) ini tidak akan disertai aktiviti merosakkan, menghancurkan atau membakar harta benda negara, awam atau individu. Para penunjuk perasaan akan sentiasa memerhatikan dan mematuhi hukum-hukum syara’, nilai-nilai Islam dan kemaslahatan umat Islam. Mereka juga akan sentiasa menjaga adab-adab sebagai orang Islam.
Aktiviti berdemonstrasi (tunjuk perasaan) atau perarakan di jalan-jalan, berkumpul di luar bangunan atau kawasan terbuka dengan membawa sepanduk yang merupakan manifestasi dari rasa tidak puas hati berkenaan sesuatu perkara nampaknya semakin mendapat tempat di hati rakyat Malaysia. Secara sepintas lalu, ia
menunjukkan sifat prihatin rakyat terhadap isu-isu semasa yang menyentuh sensitiviti mereka.
Minggu lepas kita telah dikhabarkan oleh media-media massa mengenai demonstrasi yang dilakukan oleh beberapa pertubuhan bukan kerajaan (NGO) yang menggelarkan diri mereka sebagai Badan Anti IFC (Suruhanjaya Antara Agama) atau BADAI yang dianggotai oleh beberapa NGO. Seramai lebih kurang 500 orang telah berdemonstrasi membantah forum bertajuk `Perlembagaan Persekutuan : Perlindungan Untuk Semua' di hadapan Hotel Cititel, Pulau Pinang yang dianjurkan oleh Aliran dan Article 11, yang dianggotai oleh 14 NGO termasuk Sisters in Islam (SIS), Suara Rakyat Malaysia (SUARAM), Majlis Peguam dan All Women's Action Society (AWAM) [Utusan Malaysia 15 Mei 2006]. Tindakan demonstrasi yang dilakukan oleh BADAI itu telah menimbulkan reaksi yang negatif dari Menteri di Jabatan Perdana Menteri, Datuk Seri Mohd Nazri Abdul Aziz dengan menyifatkannya sebagai salah dan bodoh. “Jika anda bantah dan adakan demonstrasi ketika orang berbincang, ia tindakan bodoh. Saya tidak takut menggunakan ayat itu”, katanya pada sidang akhbar selepas merasmikan Mesyuarat Pakar-pakar Antarabangsa Mengenai Hak Asasi Manusia di Sisi Islam (MIEHRI) di Kuala Lumpur. [Utusan Malaysia 16 Mei 2006].
Dilihat dari sudut sejarah, demonstrasi sebenarnya telah lama menular ke negara ini, semenjak Tanah Melayu dijajah oleh British lagi. Ketika itu, kuasa pemerintahan dipegang sepenuhnya oleh British yang menyebabkan ketidakpuasan hati rakyat. Rakyat, khususnya orang Melayu bangkit untuk menentang penjajah. Kebangkitan mereka dimanifestasikan oleh tindakan demonstrasi untuk menunjukkan rasa tidak puas hati kepada British. Para pejuang nasionalis Melayu sebelum zaman merdeka telah beberapa kali melakukan tindakan demonstrasi dan antara yang terbesar adalah demonstrasi yang dipimpin oleh Datuk Onn Jaafar, pada 10 Februari 1946. Dianggarkan seramai 15,000 orang Melayu telah berhimpun menentang penubuhan Malayan Union, di Batu Pahat, Johor. Ini telah menjadi titik tolak kepada beberapa siri demonstrasi orang Melayu, khasnya ahli UMNO selepas itu dalam menentang penjajahan British di Tanah Melayu sehingga berakhirnya penjajahan pada 31 Ogos 1957.
Amat tidak wajar jika kita membuat kesimpulan bahawa demonstrasi yang telah dilakukan ini suatu tindakan bodoh. Adakah pemimpin-pemimpin (khasnya UMNO) dan rakyat yang telah berjuang dengan melakukan demonstrasi untuk mendapatkan kemerdekaan dari British ini telah melakukan suatu kebodohan? Walaupun demonstrasi itu telah dilakukan ‘secara haram’ (kerana British pada waktu itu tidak memberi permit untuk rakyat mengadakan demonstrasi), tetapi pemimpin dan rakyat pada waktu itu tidak pernah beranggapan ia adalah suatu kebodohan, malah sebaliknya. Walaupun perhimpunan adalah ‘haram’, rakyat tetap bangkit dan berdemonstrasi tanpa memperdulikan ‘keharamannya’. Inilah sejarah yang tidak dapat kita nafikan.
Salah satu ciri-ciri orang sukses ialah mampu mendorong diri untuk mengambil tindakan selalu. Mereka dengan tekun berusaha sampai tujuannya tercapai. Mereka bisa terus menerus mengambil tindakan sehingga semakin hari semakin dekat dengan sukses. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana bisa mereka terus bertindak?
Ada tujuh hal yang bisa mendorong setiap orang mampu bertindak secara konsisten. Jika Anda memiliki ketujuh hal ini, maka Anda akan mampu terus menerus mendorong diri Anda untuk tetap bertindak. Apa saja ketujuh hal tersebut? Tidak sabar ya? Ini dia ketujuh hal pemicu motivasi Anda.
Adakah Anda memiliki ciri-ciri tersebut? Saya yakin Anda sudah memiliki ciri-ciri tersebut. Jika Anda ingin sukses, yang kita perlukan ialah belajar dan melatih diri untuk menyempurnakan ciri-ciri orang sukses melekat pada diri kita. Selamat belajar dan berlatih sampai Anda memiliki ciri-ciri orang sukses.
Ada tujuh hal yang bisa mendorong setiap orang mampu bertindak secara konsisten. Jika Anda memiliki ketujuh hal ini, maka Anda akan mampu terus menerus mendorong diri Anda untuk tetap bertindak. Apa saja ketujuh hal tersebut? Tidak sabar ya? Ini dia ketujuh hal pemicu motivasi Anda.
Ciri-ciri Orang Sukses yang pertama ialah gairah yang menyala.
Gairah adalah gaya batin yang mendorong Anda untuk bertindak. Gairah seringkali dihubungkan dengan masalah seksual, karena gambaran gairah bisa dilihat pada gairah seksual. Bukankan hal yang konyol, seseorang sampai tega memperkosa. Ini akibat suatu gairah yang tidak tertahankan. Jika seandainya gairah bisa kita arahkan ke arah yang positif, maka kita bisa melakukan tindakan-tindakan positif yang luar biasa.Ciri-ciri Orang Sukses yang kedua adalah kepercayaan yang memberdayakan.
Apa bedanya kepercayaan orang sukses dengan orang yang gagal? Orang gagal memiliki kepercayaan yang membatasi dia untuk bertindak dan berpikir. Kepercayaan memang bisa membatasi tindakan, bahkan berpikir juga. Sementara orang yang sukses memiliki kepercayaan yang memberdayakan. Kepercayaan yang akan membuat dia bertindak dan berpikir besar, sehingga bisa menghasilkan hasil-hasil yang besar.Ciri-ciri Orang Sukses yang ketiga adalah strategi yang jitu.
Strategi ialah bagaimana kita menempatkan diri kita di dalam lingkungan sehingga akan menguntungkan diri kita. Strategi juga meliputi bagaimana kita mengorganisasikan sumber daya yang ada. Seperti seorang panglima perang, dia bisa mengorganisasikan pasukan, perbekalan, dan persenjataan untuk memenangkan perang. Inilah yang disebut dengan strategi perang.Ciri-ciri Orang Sukses yang keempat adalah nilai-nilai yang mengarahkan.
Nilai-nilai adalah sistem kepercayaan yang menentukan baik dan buruk, benar dan salah. Nilai-nilai berguna untuk mengarahkan hidup kita, sehingga berjalan dengan mulus dan lancar sehingga memudahkannya untuk mencapai tujuan. Kejelasan nilai-nilai akan membuat hidup Anda begitu efektif karena sesuai dengan hal-hal yang Anda hadapi. Inilah mengapa motivasi Islami muncul, agar kita berjalan meraih sukses disertai nilai-nilai islami.Ciri-ciri Orang Sukses yang kelima ialah energi yang melimpah.
Seperti sebuah kendaraan, tidak akan bisa bertindak jika tidak memiliki energi yang mencukupi. Oleh karena itu kita harus selalu mempersiapkan energi kita agar bisa tetap bertindak. Namun bukan hanya energi fisik, juga energi intelektual, dan energi spiritual. Semuanya diperlukan.Ciri-ciri Orang Sukses yang keenam adalah relasi yang harmonis.
Semua orang sukses, selalu dicirikan dengan kemampuan menjalin relasi yang baik dengan orang lain. Orang yang sukses memiliki kemampuan mengembangkan simpati sesama, tidak peduli apa pun latar belakangnya. Rezeki sering datang melalui silaturahim.Ciri-ciri Orang Sukses yang ketujuh adalah komunikasi yang baik.
yang dimaksudkan bukan hanya cara berkomunikasi dengan sesama, tetapi juga cara berkomunikasi dengan diri sendiri. Berkomunikasi dengan sesama yang baik akan menghasilkan relasi yang harmonis. Sementara komunikasi dengan diri sendiri akan menentukan kualitas hidup kita. eBook Beautiful Mind adalah ebook yang membahas bagaimana cara berkomunikasi dengan diri sendiri yang menghasilkan sukses.Adakah Anda memiliki ciri-ciri tersebut? Saya yakin Anda sudah memiliki ciri-ciri tersebut. Jika Anda ingin sukses, yang kita perlukan ialah belajar dan melatih diri untuk menyempurnakan ciri-ciri orang sukses melekat pada diri kita. Selamat belajar dan berlatih sampai Anda memiliki ciri-ciri orang sukses.
Minggu malam tepat pada tanggal 19 September, akan di adakan konser KOTAK di Wali Kota, sebenarnya kami sudah janjian pergi bersama teman-teman, tapi kami hanya nongkrong di warnet, karena kami tidak punya modal bro,,,, ya lagi kerek,,ha ha ha, ya, cuman ucapin welcome buat KOTAK semoga tetap Eksis, amin,,
Langganan:
Postingan (Atom)






